Titrasi Asam Basa (Penambahan Asam dan Basa)- Ada beberapa macam titrasi bergantung pada jenis reaksinya, seperti titrasi asam basa, titrasi permanganometri, titrasi argentometri, dan titrasi iodometri.
Pada topik berikut akan diuraikan mengenai titrasi asam basa. Titrasi
adalah suatu metode untuk menentukan konsentrasi zat di dalam larutan.
Titrasi dilakukan dengan cara mereaksikan larutan tersebut dengan
larutan yang sudah diketahui konsentrasinya. Reaksi dilakukan secara
bertahap (tetes demi tetes) hingga tepat mencapai titik stoikiometri
atau titik setara.
1. Indikator Asam Basa
Dalam titrasi asam basa, zat-zat yang bereaksi umumnya tidak berwarna
sehingga Anda tidak tahu kapan titik stoikiometri tercapai. Misalnya,
larutan HCl dan larutan NaOH, keduanya tidak berwarna dan setelah
bereaksi, larutan NaCl yang terbentuk juga tidak berwarna. Untuk
menandai bahwa titik setara pada titrasi telah dicapai digunakan
indikator atau penunjuk. Indikator ini harus berubah warna pada saat
titik setara tercapai. Apakah indikator asam basa itu? Indikator asam
basa adalah petunjuk tentang perubahan pH dari suatu larutan asam atau basa.
Indikator bekerja berdasarkan perubahan warna indikator pada rentang pH
tertentu. Anda tentu mengenal kertas lakmus, yaitu salah satu indikator
asam basa. Lakmus merah berubah warna menjadi biru jika dicelupkan ke
dalam larutan basa. Lakmus biru berubah menjadi merah jika dicelupkan ke
dalam larutan asam. Terdapat beberapa indikator yang memiliki trayek
perubahan warna cukup akurat akibat pH larutan berubah, seperti indikator metil jingga, metil merah, fenolftalein, alizarin kuning, dan brom timol biru. Untuk mengetahui pada pH berapa suatu indikator berubah warna (trayek pH indikator).